Cara Menulis Abstrak yang Baik dan Efektif dalam Artikel Ilmiah

Cara Menulis Abstrak yang Baik dan Efektif dalam Artikel Ilmiah

Abstrak adalah bagian kecil dalam artikel ilmiah, tetapi pengaruhnya besar. Banyak pembaca, editor, dan reviewer melihat abstrak lebih dulu sebelum memutuskan apakah artikel layak dibaca lebih lanjut. Jika abstrak tidak jelas, isi artikel yang sebenarnya kuat pun bisa terlihat kurang meyakinkan.

Abstrak berfungsi sebagai ringkasan padat dari keseluruhan artikel dari publikasi jurnal. Isinya biasanya mencakup tujuan penelitian, metode, hasil utama, dan kesimpulan. Pada artikel dengan struktur IMRaD, abstrak merangkum bagian introduction, methods, results, and discussion secara singkat agar pembaca cepat memahami arah penelitian. Literatur terbaru juga menegaskan bahwa abstrak yang terstruktur membantu pembaca memahami ruang lingkup, metode, dan temuan riset dengan lebih jelas.

Artikel ini membahas pengertian abstrak, jenis-jenis abstrak, struktur yang umum digunakan, langkah menulis abstrak yang baik, kesalahan yang perlu dihindari, serta contoh pola abstrak yang dapat digunakan sebelum submit ke jurnal.

Apa Itu Abstrak?

Abstrak adalah ringkasan singkat dari artikel ilmiah yang memberikan gambaran umum tentang isi penelitian. Abstrak membantu pembaca mengetahui apa yang diteliti, bagaimana penelitian dilakukan, apa hasil utamanya, dan apa makna dari hasil tersebut.

Abstrak bukan sekadar pengantar dalam artikel jurnal ilmiah, abstrak adalah representasi singkat dari keseluruhan artikel. Editor dapat menggunakan abstrak untuk menilai relevansi awal naskah, reviewer menggunakannya untuk memahami fokus artikel, dan pembaca menggunakannya untuk menentukan apakah artikel tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.

Panjang abstrak biasanya mengikuti ketentuan jurnal, namun banyak jurnal menggunakan rentang sekitar 150 sampai 250 kata, meskipun ada juga yang meminta lebih pendek atau lebih panjang. Panduan penulisan akademik dari George Mason University menyebut abstrak IMRaD umumnya berada dalam kisaran 150 sampai 300 kata, tetapi aturan tetap bergantung pada jurnal atau venue publikasi.

Fungsi Abstrak dalam Artikel Ilmiah

Abstrak memiliki beberapa fungsi penting.

Pertama, abstrak membantu pembaca memahami isi artikel secara cepat. Pembaca tidak selalu punya waktu membaca seluruh artikel sejak awal. Abstrak memberi gambaran apakah artikel tersebut relevan dengan topik yang sedang dicari.

Kedua, abstrak membantu proses pengindeksan. Database jurnal, mesin pencari akademik, dan sistem perpustakaan digital sering menggunakan judul, abstrak, dan kata kunci untuk menampilkan artikel dalam hasil pencarian. Abstrak yang jelas membuat artikel lebih mudah ditemukan.

Ketiga, abstrak menjadi kesan pertama naskah. Artikel tahun 2025 di Journal of Clinical Epidemiology menunjukkan bahwa kualitas pelaporan abstrak berkaitan dengan kemudahan artikel ditemukan oleh alat screening semi-otomatis dalam proses telaah literatur. Ini menunjukkan bahwa abstrak yang lengkap dan rapi tidak hanya membantu manusia, tetapi juga sistem pencarian dan seleksi berbasis teknologi.

Jenis Abstrak: Deskriptif dan Informatif

Secara umum, ada dua jenis abstrak yang sering digunakan dalam penulisan ilmiah, yaitu abstrak deskriptif dan abstrak informatif.

Jenis AbstrakIsi UtamaPanjang UmumKapan Digunakan
Abstrak DeskriptifMenjelaskan topik, tujuan, dan ruang lingkup tulisan tanpa merinci metode dan hasil50 sampai 150 kataEsai akademik, artikel konseptual, artikel pendek, atau kajian non-empiris
Abstrak InformatifMerangkum tujuan, metode, hasil utama, dan kesimpulan penelitian150 sampai 250 kataArtikel penelitian, artikel jurnal, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan riset

Untuk artikel penelitian, abstrak informatif lebih sering digunakan karena memberi gambaran lengkap tentang isi artikel. Pembaca tidak hanya tahu topiknya, tetapi juga memahami cara penelitian dilakukan dan temuan utama yang dihasilkan.

Struktur Abstrak yang Baik

Struktur Abstrak IMraD

Abstrak yang baik biasanya memiliki alur yang jelas. Tidak harus selalu diberi subjudul, tetapi isinya tetap perlu memuat unsur berikut.

1. Latar Belakang Singkat

Bagian awal abstrak menjelaskan konteks masalah. Tulis cukup satu atau dua kalimat. Hindari latar belakang yang terlalu panjang karena ruang abstrak terbatas.

Contoh:

“Publikasi ilmiah menjadi salah satu indikator penting dalam pengembangan karier akademik, tetapi banyak penulis pemula masih mengalami kesulitan dalam memilih jurnal yang sesuai.”

Kalimat seperti ini langsung memberi konteks tanpa terlalu melebar.

2. Tujuan Penelitian

Tujuan menjelaskan apa yang ingin dicapai oleh artikel. Bagian ini harus jelas, spesifik, dan sesuai dengan isi penelitian.

Contoh:

“Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan mahasiswa dalam menulis artikel ilmiah untuk jurnal nasional terakreditasi.”

Jika artikel akan dikirim ke jurnal tertentu, pastikan tujuan tidak terlalu umum. Tujuan yang kabur membuat abstrak terasa lemah.

3. Metode Penelitian

Metode menjelaskan pendekatan yang digunakan. Sebutkan jenis penelitian, sumber data, responden atau informan, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis utama.

Contoh:

“Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei terhadap 120 mahasiswa tingkat akhir. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda.”

Untuk penelitian kualitatif, metode dapat ditulis seperti ini:

“Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan 15 dosen pembimbing dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik.”

4. Hasil Utama

Hasil adalah bagian yang paling sering lemah dalam abstrak. Banyak penulis hanya menulis “hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh” tanpa menjelaskan temuan intinya.

Tuliskan hasil utama secara ringkas. Jika ada angka penting, masukkan angka tersebut.

Contoh:

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman struktur artikel, pengalaman membaca jurnal, dan kemampuan menggunakan reference manager berpengaruh signifikan terhadap kesiapan publikasi mahasiswa.”

Hasil tidak perlu dijelaskan panjang. Pilih temuan yang paling penting.

5. Kesimpulan dan Implikasi

Bagian akhir abstrak menjelaskan makna singkat dari hasil penelitian. Kesimpulan tidak boleh berisi klaim yang tidak muncul dalam hasil.

Contoh:

“Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan penulisan artikel ilmiah perlu diarahkan tidak hanya pada teknik menulis, tetapi juga pada literasi jurnal dan pengelolaan referensi.”

Kesimpulan yang baik membantu pembaca memahami kontribusi artikel.

Langkah Menulis Abstrak yang Efektif

Seleksi dari artikel menuju struktur Abstrak

1. Tulis Abstrak Setelah Artikel Selesai

Abstrak lebih mudah ditulis setelah seluruh artikel selesai. Pada tahap ini, penulis sudah memahami fokus, metode, hasil, dan kesimpulan dengan lebih utuh.

Jika abstrak ditulis terlalu awal, isinya sering berubah karena artikel masih berkembang. Hasilnya, abstrak bisa tidak sesuai dengan isi naskah.

2. Ambil Poin Inti dari Setiap Bagian Artikel

Buka kembali artikel Anda, lalu ambil satu poin penting dari setiap bagian.

  • Dari pendahuluan, ambil masalah dan tujuan.
  • Dari metode, ambil desain penelitian dan teknik analisis.
  • Dari hasil, ambil temuan utama.
  • Dari pembahasan atau kesimpulan, ambil makna dan implikasi.

Pola ini membuat abstrak lebih terarah dan tidak melebar.

3. Gunakan Kalimat yang Padat

Abstrak bukan tempat untuk menjelaskan semua detail. Pilih kata yang jelas, langsung, dan hemat.

Hindari kalimat seperti:

“Penelitian ini merupakan penelitian yang sangat penting untuk dilakukan mengingat banyaknya fenomena yang terjadi di masyarakat terkait dengan masalah yang dikaji.”

Kalimat tersebut bisa dipadatkan menjadi:

“Penelitian ini mengkaji meningkatnya kebutuhan literasi publikasi ilmiah di kalangan mahasiswa tingkat akhir.”

Lebih singkat, lebih jelas, dan lebih kuat.

4. Tampilkan Hasil, Bukan Hanya Proses

Abstrak artikel penelitian harus menampilkan hasil. Tanpa hasil, abstrak terasa seperti proposal.

Kurang kuat:

“Artikel ini membahas pengaruh literasi digital terhadap kemampuan menulis mahasiswa.”

Lebih kuat:

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital berhubungan positif dengan kemampuan mahasiswa dalam mencari referensi, mengelola sitasi, dan menyusun argumen akademik.”

Pembaca perlu tahu apa yang ditemukan, bukan hanya apa yang dibahas.

5. Sesuaikan dengan Pedoman Jurnal

Setiap jurnal punya ketentuan berbeda. Ada jurnal yang meminta abstrak satu paragraf. Ada juga yang meminta structured abstract dengan subjudul seperti Background, Objective, Methods, Results, dan Conclusion.

Jika Anda menargetkan Jurnal Nasional Terakreditasi atau Jurnal Internasional, membaca author guidelines adalah langkah wajib. Format abstrak yang tidak sesuai dapat membuat naskah dikembalikan sebelum masuk review.

6. Tambahkan Kata Kunci yang Tepat

Setelah abstrak, jurnal biasanya meminta 3 sampai 5 kata kunci. Kata kunci membantu artikel ditemukan melalui database jurnal dan mesin pencari akademik.

Pilih kata kunci yang benar-benar mewakili topik utama. Hindari kata yang terlalu umum seperti “pendidikan”, “penelitian”, atau “mahasiswa” jika tidak dipadukan dengan istilah yang lebih spesifik.

Contoh kata kunci yang lebih baik:

“publikasi ilmiah; jurnal nasional terakreditasi; academic writing; literasi referensi; mahasiswa pascasarjana”

Contoh Pola Abstrak Artikel Ilmiah

Berikut pola sederhana yang dapat digunakan.

Latar belakang: jelaskan masalah utama dalam satu kalimat.
Tujuan: tuliskan tujuan penelitian secara spesifik.
Metode: sebutkan pendekatan, data, responden, dan analisis.
Hasil: tampilkan temuan utama.
Kesimpulan: jelaskan makna atau implikasi hasil.

Contoh abstrak:

“Publikasi ilmiah menjadi tuntutan penting bagi mahasiswa pascasarjana, tetapi banyak penulis pemula masih mengalami kesulitan dalam memahami struktur artikel jurnal. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan mahasiswa dalam menulis artikel ilmiah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei terhadap 120 mahasiswa pascasarjana di tiga perguruan tinggi. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman struktur artikel, pengalaman membaca jurnal, dan kemampuan menggunakan reference manager berpengaruh signifikan terhadap kesiapan menulis artikel ilmiah. Temuan ini menunjukkan pentingnya pelatihan penulisan berbasis praktik yang mencakup struktur artikel, literasi jurnal, dan pengelolaan referensi.”

Abstrak di atas ringkas, memiliki alur, dan mencakup unsur penting artikel penelitian.

Kesalahan Umum Saat Menulis Abstrak

1. Abstrak Terlalu Umum

Abstrak yang terlalu umum membuat pembaca sulit memahami kontribusi artikel. Hindari kalimat yang terdengar luas, tetapi tidak memberi informasi spesifik.

2. Tidak Menyebutkan Metode

Metode penting karena menunjukkan bagaimana penelitian dilakukan. Tanpa metode, abstrak terasa kurang lengkap.

3. Tidak Menampilkan Hasil

Artikel penelitian perlu menyebutkan hasil utama. Jika abstrak hanya berisi tujuan dan metode, pembaca belum mendapat gambaran temuan.

4. Terlalu Banyak Latar Belakang

Latar belakang cukup singkat. Abstrak bukan pendahuluan mini. Gunakan ruang abstrak untuk menyampaikan bagian inti.

5. Menggunakan Sitasi

Abstrak umumnya tidak memuat sitasi. Fokusnya adalah merangkum penelitian Anda, bukan membangun kajian pustaka.

6. Memakai Singkatan yang Tidak Dijelaskan

Singkatan yang tidak umum dapat membingungkan pembaca. Jika singkatan harus digunakan, tuliskan kepanjangannya saat pertama kali muncul.

7. Tidak Sesuai Batas Kata

Jurnal biasanya menetapkan batas kata. Abstrak yang terlalu panjang atau terlalu pendek dapat dianggap tidak mengikuti pedoman.

Checklist Abstrak Sebelum Submit

Gunakan checklist berikut sebelum mengirim artikel ke jurnal.

Hal yang DicekStatus
Abstrak sesuai batas kata jurnal
Tujuan penelitian tertulis jelas
Metode penelitian disebutkan ringkas
Hasil utama ditampilkan
Kesimpulan sesuai dengan hasil
Tidak ada sitasi di abstrak
Tidak ada klaim berlebihan
Singkatan yang tidak umum dihindari atau dijelaskan
Kata kunci relevan dengan topik
Bahasa sudah ringkas dan mudah dipahami

Peran Kalam Practica Media

Kalam Practica Media membantu penulis merumuskan abstrak yang lebih jelas, padat, dan sesuai dengan pedoman jurnal. Pendampingan dapat mencakup revisi abstrak, penyusunan kata kunci, penyesuaian panjang abstrak, perbaikan bahasa akademik, serta pengecekan kesesuaian dengan struktur artikel.

Layanan ini cocok untuk penulis yang sedang menyiapkan artikel untuk jurnal nasional, jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, prosiding, skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian.

Bagaimana Cara Menghubungi Kami?

📞WA/Telp: +62 821-1521-6307 (Editor)
📩 Email: editor@kalampractica.com
🌐 Website: www.kalampractica.com

FAQ

Apakah abstrak harus ditulis dalam bahasa Inggris?

Banyak jurnal internasional mensyaratkan abstrak berbahasa Inggris. Jurnal nasional sering meminta abstrak dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Aturan ini bergantung pada pedoman masing-masing jurnal, jadi penulis perlu memeriksa author guidelines sebelum submit.

Apakah abstrak boleh mencantumkan sitasi?

Abstrak umumnya tidak mencantumkan sitasi. Bagian ini berfokus pada ringkasan penelitian, bukan kajian pustaka. Sitasi lebih tepat ditempatkan pada pendahuluan, tinjauan pustaka, atau pembahasan.

Berapa panjang abstrak yang ideal?

Panjang abstrak biasanya berada pada kisaran 150 sampai 250 kata untuk artikel penelitian. Beberapa jurnal dapat meminta abstrak lebih pendek atau lebih panjang. Ikuti batas kata yang ditetapkan oleh jurnal tujuan.

Apa bedanya abstrak dan pendahuluan?

Abstrak merangkum seluruh isi artikel, mulai dari tujuan sampai kesimpulan. Pendahuluan menjelaskan latar belakang, masalah penelitian, gap riset, dan tujuan secara lebih rinci. Abstrak berdiri sebagai ringkasan, sedangkan pendahuluan menjadi pembuka argumentasi artikel.

Apakah abstrak harus memuat hasil penelitian?

Untuk artikel penelitian, abstrak perlu memuat hasil utama. Tanpa hasil, abstrak akan terasa seperti proposal. Pembaca perlu mengetahui temuan penting dari penelitian, meskipun ditulis secara singkat.

Bagaimana jika penelitian memiliki beberapa tujuan?

Fokuskan abstrak pada tujuan utama. Tujuan tambahan dapat disebutkan secara ringkas jika masih relevan. Terlalu banyak tujuan dalam abstrak membuat tulisan terasa penuh dan sulit dipahami.

Bolehkah menggunakan singkatan dalam abstrak?

Singkatan yang sudah umum dapat digunakan. Singkatan yang tidak umum lebih baik dihindari. Jika memang diperlukan, tuliskan kepanjangannya saat pertama kali disebut agar pembaca tidak bingung.

Apakah kata kunci harus sama dengan kata dalam judul?

Tidak harus sama, tetapi harus relevan. Kata kunci dapat melengkapi judul dengan istilah yang membantu pengindeksan. Pilih kata kunci yang mewakili topik, metode, objek, atau bidang kajian artikel.

Kapan waktu terbaik menulis abstrak?

Abstrak paling baik ditulis setelah artikel selesai. Dengan begitu, penulis dapat merangkum tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan secara akurat. Setelah abstrak selesai, cocokkan kembali dengan isi artikel agar tidak ada perbedaan informasi.

Apa yang membuat abstrak terlihat kuat di mata editor?

Abstrak yang kuat biasanya jelas, ringkas, spesifik, dan lengkap. Editor dapat memahami masalah yang dikaji, metode yang digunakan, hasil utama, dan kontribusi artikel tanpa harus menebak-nebak isi naskah.

Referensi

  1. Alharbi, F., & Alghabban, R. O. (2024). Reporting quality of abstracts in systematic reviews in orthodontics: An observational study. The Journal of Contemporary Dental Practice, 25(5), 459–462. https://doi.org/10.5005/jp-journals-10024-3678
  2. Bahadoran, Z., Mirmiran, P., Kashfi, K., & Ghasemi, A. (2020). The principles of biomedical scientific writing: Abstract and keywords. International Journal of Endocrinology and Metabolism, 18(1), e100159. https://doi.org/10.5812/ijem.100159
  3. Bralić, N., Puljak, L., & others. (2025). Completeness of reporting in abstracts of randomized controlled trials in dental medicine published from 2015–2023: A methodological study. PLOS ONE, 20(7), e0328271. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0328271
  4. Corrin, L., Huijser, H., Han, F., & Lodge, J. (2024). Don’t be abstract: Crafting an impactful abstract for educational technology research. Australasian Journal of Educational Technology, 40(2), 1–11. https://doi.org/10.14742/ajet.9938
  5. Drury, A., Pape, E., Dowling, M., Miguel, S., Fernández-Ortega, P., Papadopoulou, C., & Kotronoulas, G. (2023). How to write a comprehensive and informative research abstract. Seminars in Oncology Nursing, 39(2), 151395. https://doi.org/10.1016/j.soncn.2023.151395
  6. Dupree, L. H., & Casapao, A. M. (2023). Research and scholarly methods: Writing abstracts. JACCP: Journal of the American College of Clinical Pharmacy, 6, 1146–1155. https://doi.org/10.1002/jac5.1822
  7. Gopinath, V. K., Shetty, R. M., Renugalakshmi, A., Dharmarajan, L., Prakash, P. S. G., & Jayaraman, J. (2023). Reporting quality of the abstracts for randomized controlled trials in pediatric dentistry. European Journal of Dentistry, 18(1), 341–348. https://doi.org/10.1055/s-0043-1771348
  8. Li, C., Fang, X., Qin, D., & Hua, F. (2022). The structure format of abstracts: A survey of leading dental journals and their editors. Journal of Evidence-Based Dental Practice, 22(3), 101646. https://doi.org/10.1016/j.jebdp.2021.101646
  9. Nagendrababu, V., Gopinath, V. K., Tzanetakis, G. N., Suresh, A., Narasimhan, S., Faggion, C. M., Abbott, P. V., & Dummer, P. M. H. (2025). A cross-sectional study appraising the reporting quality of abstracts of systematic reviews with meta-analyses on traumatic dental injuries using the PRISMA for Abstract checklist. Dental Traumatology, 41(5), 601–608. https://doi.org/10.1111/edt.13047
  10. Spiero, I., Leeuwenberg, A. M., Moons, K. G. M., Hooft, L., & Damen, J. A. A. (2025). Write your abstracts carefully: The impact of abstract reporting quality on findability by semi-automated title-abstract screening tools. Journal of Clinical Epidemiology, 186, 111987. https://doi.org/10.1016/j.jclinepi.2025.111987