
Plagiarisme adalah tindakan mengambil bahasa, gagasan, data, struktur tulisan, atau karya orang lain lalu menampilkannya seolah-olah sebagai karya sendiri. Dalam dunia akademik, plagiarisme bukan sekadar kesalahan teknis. Ini termasuk pelanggaran etika yang dapat merusak kredibilitas penulis, institusi, dan publikasi ilmiah.
Naskah biasanya akan diperiksa melalui proses editorial alam publikasi jurnal. Banyak jurnal menggunakan similarity checker untuk melihat apakah ada bagian tulisan yang terlalu mirip dengan sumber lain. Jika tingkat kemiripan tinggi atau ditemukan penggunaan sumber tanpa atribusi yang benar, artikel bisa ditolak, diminta revisi, bahkan ditarik setelah terbit.
Artikel ini membahas apa itu plagiarisme, mengapa cek plagiarisme penting, tools yang dapat digunakan, cara membaca laporan similarity, serta tips praktis agar artikel ilmiah lebih aman sebelum dikirim ke jurnal.
Apa Itu Plagiarisme?
Plagiarisme adalah penggunaan karya, ide, kata-kata, data, atau hasil pemikiran orang lain tanpa memberikan pengakuan yang tepat kepada sumber aslinya. Dalam penulisan ilmiah, plagiarisme dapat terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja.
Contoh plagiarisme yang sering terjadi:
- menyalin paragraf dari artikel lain tanpa kutipan;
- menerjemahkan tulisan orang lain tanpa mencantumkan sumber;
- memakai ide atau teori tanpa menyebut referensi;
- mengambil data, tabel, atau gambar tanpa izin dan atribusi;
- melakukan parafrase terlalu dekat dengan teks asli;
- menggunakan kembali tulisan sendiri yang sudah terbit tanpa penjelasan atau sitasi.
Plagiarisme juga berbeda dari pelanggaran hak cipta. Plagiarisme berkaitan dengan klaim akademik dan pengakuan sumber, sedangkan hak cipta berkaitan dengan penggunaan karya yang dilindungi secara hukum. Keduanya bisa saling berkaitan, tetapi tidak selalu sama.
Mengapa Cek Plagiarisme Penting?
Cek plagiarisme penting karena penulis perlu memastikan naskahnya orisinal, etis, dan siap masuk proses editorial. Dalam publikasi ilmiah, orisinalitas menjadi salah satu syarat dasar.
1. Menjaga Integritas Akademik
Artikel ilmiah harus menghargai karya peneliti lain. Jika menggunakan teori, data, temuan, atau pendapat dari sumber tertentu, penulis wajib mencantumkan sitasi.
Naskah yang bebas plagiarisme menunjukkan bahwa penulis memahami etika akademik dan mampu membangun argumen sendiri.
2. Mengurangi Risiko Penolakan Jurnal
Banyak jurnal memeriksa similarity sebelum naskah dikirim ke reviewer. Jika hasil similarity terlalu tinggi atau ditemukan bagian yang bermasalah, editor dapat mengembalikan atau menolak naskah.
Turnitin menjelaskan bahwa Similarity membantu mendeteksi potensi plagiarisme dengan menandai kemiripan teks, tetapi alat tersebut tidak menentukan sendiri apakah plagiarisme benar-benar terjadi. Penilaian tetap perlu dilakukan oleh manusia dengan melihat konteks, kutipan, dan sumber.
3. Memberi Kesempatan Revisi Sebelum Submit
Cek plagiarisme sebelum submit memberi waktu bagi penulis untuk memperbaiki naskah. Bagian yang terlalu mirip dapat diparafrasekan ulang, diberi kutipan, atau diperjelas sumbernya.
Langkah ini jauh lebih baik daripada menunggu editor jurnal menemukan masalah saat proses screening.
4. Menghindari Dampak Reputasi
Plagiarisme dapat berdampak serius. Artikel dapat ditarik, reputasi penulis menurun, dan hubungan akademik dengan jurnal atau institusi bisa terganggu.
Dalam kasus publikasi, COPE menyediakan panduan bagi editor saat menangani dugaan plagiarisme pada manuskrip yang dikirim ke jurnal. Ini menunjukkan bahwa plagiarisme diperlakukan sebagai isu etika publikasi yang serius.
Jenis-Jenis Plagiarisme dalam Artikel Ilmiah
Plagiarisme tidak selalu berbentuk salin-tempel. Ada beberapa bentuk yang perlu dipahami penulis.
1. Plagiarisme Langsung
Ini terjadi ketika penulis menyalin teks dari sumber lain tanpa tanda kutip dan tanpa mencantumkan sumber. Bentuk ini paling mudah dikenali dan paling berisiko.
2. Parafrase yang Terlalu Dekat
Parafrase bukan sekadar mengganti beberapa kata. Jika struktur kalimat masih sangat mirip dengan sumber asli, tulisan tetap bisa dianggap bermasalah.
Parafrase yang baik harus menggunakan struktur kalimat sendiri, tetap menjaga makna, dan mencantumkan sumber.
3. Plagiarisme Ide
Ini terjadi ketika penulis mengambil gagasan, konsep, model, atau argumen orang lain tanpa menyebut sumbernya. Meskipun kalimatnya berbeda, ide tetap perlu diberi atribusi.
4. Self-Plagiarism
Self-plagiarism terjadi ketika penulis menggunakan kembali tulisan sendiri yang sudah pernah dipublikasikan tanpa memberi keterangan atau sitasi. Wiley, dalam panduan etika publikasinya, mengutip COPE bahwa text recycling atau self-plagiarism adalah penggunaan kembali tulisan sendiri tanpa transparansi atau referensi yang tepat.
5. Plagiarisme Data atau Gambar
Menggunakan tabel, grafik, data, foto, atau ilustrasi dari sumber lain tanpa izin dan atribusi juga dapat menjadi plagiarisme. Dalam beberapa kasus, ini juga bisa menjadi pelanggaran hak cipta.
Tabel Perbandingan Alat Cek Plagiarisme
Berikut beberapa alat yang sering digunakan untuk memeriksa similarity atau plagiarisme. Pilih sesuai kebutuhan, akses, dan jenis naskah.
| Nama Alat | Fungsi Utama | Versi Gratis | Catatan |
|---|---|---|---|
| Turnitin Similarity | Deteksi kemiripan teks dan laporan similarity | Tidak untuk umum | Banyak digunakan kampus dan institusi |
| iThenticate | Pemeriksaan naskah akademik, jurnal, dan dokumen riset | Berbayar | Banyak digunakan peneliti, penerbit, dan institusi |
| Grammarly Plagiarism Checker | Grammar checker dan pemeriksaan plagiarisme | Ada fitur terbatas | Cocok untuk pengecekan umum |
| Copyleaks | Deteksi plagiarisme dan AI content | Ada paket terbatas | Mendukung berbagai kebutuhan konten |
| PlagiarismCheck.org | Pemeriksaan plagiarisme online | Berbayar/terbatas | Dapat digunakan untuk dokumen akademik |
| Scribbr Plagiarism Checker | Pemeriksaan plagiarisme berbasis teknologi serupa alat akademik | Berbayar | Banyak digunakan mahasiswa |
| Quetext | Pemeriksaan plagiarisme online | Ada versi terbatas | Cocok untuk pengecekan awal |
| Duplichecker | Pemeriksaan teks online | Ada versi gratis terbatas | Cocok untuk pengecekan sederhana |
Untuk naskah jurnal, iThenticate sering digunakan karena memang ditujukan untuk dokumen akademik berisiko tinggi. iThenticate menyebut layanannya digunakan untuk memeriksa originalitas dokumen sebelum publikasi dan membantu menjaga reputasi institusi maupun penerbit.
Cara Menggunakan Alat Cek Plagiarisme
Setiap alat memiliki tampilan berbeda, tetapi alurnya biasanya mirip.
1. Siapkan Naskah Final
Gunakan versi naskah yang sudah lengkap. Pastikan judul, abstrak, pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka sudah rapi.
Jika naskah masih sangat mentah, hasil similarity bisa membingungkan karena banyak bagian akan berubah lagi.
2. Unggah Dokumen
Sebagian besar tools mendukung format seperti .doc, .docx, .pdf, atau .txt. Pilih format yang paling aman sesuai ketentuan aplikasi.
Untuk artikel ilmiah, file Word sering lebih mudah diperiksa karena struktur teksnya terbaca lebih baik.
3. Tunggu Hasil Pemeriksaan
Alat cek plagiarisme akan membandingkan teks dengan database yang dimiliki. Database tiap alat berbeda, sehingga hasil similarity bisa tidak sama.
Turnitin dan iThenticate, misalnya, memiliki akses ke database publikasi dan sumber akademik yang luas. Alat gratis biasanya memiliki cakupan yang lebih terbatas.
4. Baca Laporan Similarity
Jangan hanya melihat angka persentase. Baca bagian mana yang ditandai mirip.

Cek apakah kemiripan berasal dari:
- kutipan langsung yang sudah benar;
- daftar pustaka;
- frasa umum;
- template artikel;
- metode yang memang mirip;
- paragraf yang perlu diparafrasekan;
- bagian yang belum diberi sitasi.
iThenticate juga menekankan bahwa plagiarisme tidak bisa ditentukan hanya dari similarity score. Penulis perlu mempertimbangkan konteks, kutipan, dan bagian mana yang terdeteksi.
5. Perbaiki Bagian Bermasalah
Jika ada paragraf yang terlalu mirip, lakukan perbaikan. Parafrase ulang dengan struktur kalimat sendiri, tambahkan sitasi, atau gunakan kutipan langsung jika benar-benar diperlukan.
Pastikan daftar referensi juga sesuai dengan sitasi dalam teks. Untuk merapikan sitasi, Anda dapat menggunakan reference manager seperti Download Mendeley Desktop atau Download Zotero.
Berapa Persen Similarity yang Aman?
Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua jurnal. Setiap jurnal dan institusi dapat memiliki batas yang berbeda.
Sebagian penulis menganggap similarity di bawah 20% relatif aman, tetapi angka ini tidak boleh dijadikan patokan mutlak. Naskah dengan similarity 10% tetap bisa bermasalah jika kemiripan berasal dari satu sumber besar tanpa sitasi. Sebaliknya, similarity 25% bisa saja wajar jika sebagian besar berasal dari daftar pustaka, istilah teknis, atau kutipan yang sah.
Yang lebih penting adalah melihat kualitas kemiripan, bukan hanya persentasenya. Editor biasanya menilai apakah kemiripan tersebut wajar, sudah diberi atribusi, atau menunjukkan penyalinan yang tidak etis.
Cara Menghindari Plagiarisme
1. Catat Sumber Sejak Awal
Saat membaca artikel, buku, laporan, atau dokumen online, langsung catat sumbernya. Jangan menunggu sampai naskah selesai karena sumber bisa terlupa.
Gunakan Mendeley, Zotero, atau spreadsheet sederhana untuk mencatat judul, penulis, tahun, DOI, dan tautan sumber.
2. Bedakan Ide Sendiri dan Ide Orang Lain
Saat membuat catatan literatur, beri tanda mana yang merupakan kutipan langsung, parafrase, dan pemikiran Anda sendiri. Ini membantu menghindari pencampuran ide saat menulis.
3. Parafrase dengan Benar
Parafrase yang baik bukan mengganti kata satu per satu. Baca sumber, pahami maknanya, tutup teks asli, lalu tulis ulang dengan kalimat sendiri.
Setelah itu, tetap cantumkan sitasi.
4. Gunakan Kutipan Langsung Secukupnya
Kutipan langsung boleh digunakan, tetapi jangan berlebihan. Artikel ilmiah sebaiknya lebih banyak menggunakan parafrase karena menunjukkan pemahaman penulis.
Jika menggunakan kutipan langsung, gunakan tanda kutip dan cantumkan halaman jika gaya sitasi mengharuskannya.
5. Cantumkan Sitasi dan Daftar Referensi
Setiap sumber yang digunakan harus muncul dalam daftar referensi. Setiap entri di daftar referensi juga harus benar-benar dikutip dalam teks.
Jika Anda menggunakan APA Style, baca panduan APA 7th Edition agar format sitasi dan daftar pustaka lebih rapi.
6. Hindari Self-Plagiarism
Jika ingin menggunakan kembali bagian dari tulisan sendiri, cantumkan sumber publikasi sebelumnya. Untuk artikel jurnal, cek kebijakan jurnal tujuan karena beberapa jurnal memiliki aturan khusus terkait text recycling.
7. Lakukan Cek Sebelum Submit
Lakukan cek plagiarisme sebelum mengirim artikel ke jurnal. Ini memberi ruang untuk memperbaiki bagian yang bermasalah, terutama pada pendahuluan dan kajian literatur yang biasanya paling banyak bersinggungan dengan sumber lain.
Kesalahan yang Sering Membuat Similarity Tinggi
Beberapa hal yang sering membuat similarity tinggi:
- menyalin definisi dari sumber online;
- menggunakan kalimat dari artikel lain tanpa parafrase;
- terlalu banyak kutipan langsung;
- menulis metode dengan kalimat yang sama dari artikel sebelumnya;
- daftar pustaka ikut terbaca dalam laporan;
- template jurnal ikut terdeteksi;
- abstrak terlalu mirip dengan artikel yang sudah pernah dipublikasikan;
- menggunakan kembali bagian dari skripsi, tesis, atau artikel lama tanpa penyesuaian.
Sebelum panik melihat angka similarity, cek dulu sumber kemiripan dan bagian yang terdeteksi.
Checklist Sebelum Submit Artikel ke Jurnal
| Hal yang Dicek | Status |
|---|---|
| Semua ide dari sumber lain sudah diberi sitasi | ☐ |
| Kutipan langsung diberi tanda kutip | ☐ |
| Parafrase sudah ditulis dengan kalimat sendiri | ☐ |
| Daftar referensi sesuai dengan sitasi dalam teks | ☐ |
| Tidak ada paragraf panjang yang mirip satu sumber | ☐ |
| Self-plagiarism sudah dihindari | ☐ |
| Tabel, gambar, dan data diberi atribusi | ☐ |
| Similarity report sudah dibaca manual | ☐ |
| Bagian daftar pustaka dan template tidak disalahartikan | ☐ |
| Naskah sudah diperbaiki sebelum submit | ☐ |
Peran Kalam Practica Media
Kalam Practica Media membantu penulis memeriksa similarity naskah, membaca laporan plagiarisme, memperbaiki sitasi, merapikan parafrase, dan menyesuaikan artikel dengan standar etika publikasi.
Layanan ini cocok untuk mahasiswa, dosen, peneliti, dan penulis artikel ilmiah yang sedang menyiapkan skripsi, tesis, disertasi, artikel jurnal, prosiding, atau naskah akademik lain.
Bagaimana Cara Menghubungi Kami?
📞WA/Telp: +62 821-1521-6307 (Editor)
📩 Email: [email protected]
🌐 Website: www.kalampractica.com
FAQ
Apakah plagiarisme sama dengan pelanggaran hak cipta?
Tidak selalu sama. Plagiarisme berkaitan dengan pengakuan ide, bahasa, data, atau karya orang lain sebagai milik sendiri tanpa atribusi yang tepat. Pelanggaran hak cipta berkaitan dengan penggunaan karya yang dilindungi tanpa izin. Keduanya bisa terjadi bersamaan, tetapi konsepnya berbeda.
Berapa persen similarity yang diterima jurnal?
Setiap jurnal memiliki batas berbeda. Banyak penulis menggunakan angka di bawah 20% sebagai patokan awal, tetapi yang paling penting adalah sumber dan konteks kemiripannya. Similarity rendah tetap bisa bermasalah jika berasal dari satu sumber besar tanpa sitasi.
Apakah hasil cek plagiarisme selalu akurat?
Tidak selalu. Alat deteksi hanya membantu menemukan kemiripan teks. Penulis, editor, atau reviewer tetap perlu membaca laporan secara manual untuk menilai apakah kemiripan tersebut wajar, sudah dikutip, atau termasuk plagiarisme.
Apakah daftar pustaka ikut menaikkan similarity?
Bisa. Beberapa alat dapat mendeteksi daftar pustaka sebagai teks yang mirip karena format referensi banyak digunakan di dokumen lain. Saat membaca laporan, cek apakah tools menyediakan fitur exclude bibliography.
Apakah menggunakan tulisan sendiri termasuk plagiarisme?
Bisa, jika penulis mengulang atau menyalin karya sendiri yang sudah terbit tanpa transparansi atau sitasi. Ini dikenal sebagai self-plagiarism atau text recycling. Gunakan referensi pada karya terdahulu jika memang perlu mengutipnya kembali.
Apakah artikel hasil parafrase masih bisa dianggap plagiarisme?
Bisa, jika parafrase terlalu dekat dengan teks asli atau tidak mencantumkan sumber. Parafrase tetap harus diberi sitasi karena ide berasal dari sumber lain.
Apakah Turnitin menentukan artikel plagiarisme atau tidak?
Tidak. Turnitin Similarity menandai kemiripan teks yang mungkin menjadi indikasi plagiarisme, tetapi tidak menentukan apakah plagiarisme terjadi. Penilaian tetap membutuhkan pembacaan manusia terhadap konteks dan cara sitasi.
Apa yang harus dilakukan jika similarity artikel tinggi?
Baca laporan secara detail. Identifikasi bagian yang bermasalah, perbaiki parafrase, tambahkan sitasi, kurangi kutipan langsung, dan pastikan daftar pustaka tidak ikut dihitung jika tools menyediakan fitur pengecualian.




