
Artikel tidak langsung diterbitkan begitu saja setelah dikirim ke jurnal ilmiah. Sebelum masuk tahap publikasi, naskah perlu diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan isinya layak, metodenya jelas, datanya dapat dipertanggungjawabkan, dan kontribusinya relevan dengan bidang ilmu yang dituju.
Pemeriksaan tersebut dikenal sebagai peer review. Artikel dinilai oleh reviewer atau penelaah yang memiliki keahlian di bidang yang sama atau berdekatan dengan topik naskah melalui proses ini. Dari penilaian tersebut, editor jurnal dapat menentukan apakah artikel layak diterima, perlu direvisi, atau belum sesuai untuk diterbitkan.
Peer review bukan hanya sebagai tahap seleksi bagi penulis artikel, namun proses ini juga menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas naskah. Komentar reviewer dapat membantu penulis memperjelas metode, memperkuat analisis, merapikan pembahasan, dan membuat artikel lebih siap dibaca oleh komunitas akademik.
Apa Itu Peer Review?
Peer review adalah proses penilaian karya ilmiah oleh pakar, akademisi, atau peneliti lain yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang artikel. Dalam jurnal ilmiah, proses ini dilakukan untuk menilai kualitas naskah sebelum artikel diterbitkan.
Reviewer biasanya memeriksa beberapa aspek penting, seperti kejelasan masalah penelitian, kesesuaian metode, kualitas data, ketepatan analisis, orisinalitas, relevansi referensi, serta kontribusi artikel terhadap bidang ilmu.
Sederhanya bergini: peer review membantu jurnal menjawab pertanyaan berikut: apakah artikel ini layak diterbitkan, apakah temuan yang disampaikan cukup kuat, dan apakah naskah sudah memenuhi standar ilmiah?
Jika Anda sedang menyiapkan artikel untuk jurnal, struktur naskah juga perlu diperhatikan. Panduan Struktur IMRaD dalam Artikel Ilmiah dapat membantu penulis menyusun artikel secara lebih runtut.
Mengapa Peer Review Esensial dalam proses publikasi?
Peer review penting karena publikasi ilmiah harus melewati proses penilaian yang dapat dipercaya. Artikel yang diterbitkan jurnal tidak hanya perlu menarik secara topik, tetapi juga harus kuat secara metodologi dan etika akademik.
Menjaga Kualitas Artikel Ilmiah
Reviewer membantu menilai apakah metode penelitian sudah sesuai dengan tujuan, apakah data dianalisis dengan tepat, dan apakah kesimpulan benar-benar didukung oleh hasil penelitian.
Untuk artikel kuantitatif, reviewer dapat memeriksa desain penelitian, populasi, sampel, instrumen, uji statistik, dan interpretasi hasil. Untuk artikel kualitatif, reviewer dapat melihat pendekatan penelitian, partisipan, teknik pengumpulan data, proses analisis, dan keabsahan data.
Memberikan Masukan untuk Perbaikan
Komentar reviewer sering kali membantu artikel menjadi lebih kuat. Reviewer dapat menunjukkan bagian yang belum jelas, referensi yang perlu diperbarui, tabel yang membingungkan, atau pembahasan yang masih terlalu dangkal.
Bagi penulis, masukan seperti ini sangat berharga. Artikel yang awalnya masih lemah bisa menjadi lebih matang setelah melalui proses revisi.
Membantu Editor Mengambil Keputusan
Editor jurnal menggunakan masukan reviewer sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Artikel bisa diterima, diminta revisi kecil, diminta revisi besar, atau ditolak.
Keputusan akhir tetap berada di tangan editor, tetapi reviewer memberi pertimbangan akademik yang membantu proses tersebut lebih objektif.
Menjaga Integritas Publikasi
Peer review juga membantu mendeteksi potensi masalah dalam naskah, seperti plagiarisme, manipulasi data, klaim yang terlalu besar, metode yang tidak sesuai, atau referensi yang kurang relevan.
Sebelum submit, penulis tetap perlu melakukan pemeriksaan mandiri. Salah satu langkah penting adalah memastikan naskah bebas dari plagiarisme. Panduannya dapat dibaca di artikel Cek Plagiarisme Artikel Ilmiah.
Proses Peer Review dalam Jurnal Ilmiah
Setiap jurnal memiliki kebijakan editorial yang berbeda. Meski begitu, alur peer review umumnya berjalan melalui beberapa tahap berikut.

1. Penulis Mengirimkan Naskah
Penulis mengirim artikel melalui sistem jurnal, misalnya Open Journal Systems atau OJS. Pada tahap ini, penulis biasanya perlu mengunggah file naskah, mengisi metadata, menambahkan abstrak, memasukkan kata kunci, dan melengkapi data semua penulis.
Sebelum mengirim naskah, pastikan artikel sudah sesuai dengan pedoman jurnal. Perhatikan template, gaya sitasi, batas kata, format tabel, format gambar, serta ketentuan daftar pustaka.
Jika artikel dikirim melalui OJS, Anda dapat membaca panduan Cara Submit Artikel ke Jurnal Ilmiah melalui OJS.
2. Editor Melakukan Pemeriksaan Awal
Setelah naskah masuk, editor melakukan pemeriksaan awal. Tahap ini sering disebut desk review atau initial screening.
Pada tahap ini biasanya editor memeriksa apakah artikel sesuai dengan fokus jurnal, mengikuti author guidelines, memiliki struktur yang layak, dan tidak melanggar etika publikasi.
Artikel bisa ditolak sejak awal jika topiknya tidak sesuai, formatnya berantakan, similarity terlalu tinggi, metode tidak jelas, atau kualitas naskah belum memenuhi standar minimum jurnal.
3. Editor Menunjuk Reviewer
Jika artikel lolos pemeriksaan awal, editor akan menunjuk reviewer yang sesuai dengan bidang artikel. Biasanya satu artikel dikirim kepada dua reviewer, meskipun jumlahnya bisa berbeda tergantung kebijakan jurnal.
Reviewer dipilih berdasarkan keahlian, pengalaman riset, dan kedekatan bidang dengan topik naskah. Untuk artikel yang sangat teknis, editor biasanya memilih reviewer yang benar-benar memahami metode atau isu yang dibahas.
4. Reviewer Menilai Naskah
Reviewer membaca naskah dan memberikan penilaian. Komentar yang diberikan bisa menyentuh bagian substansi, metode, referensi, bahasa, hingga format.
Beberapa aspek yang biasanya diperiksa reviewer dapat dilihat pada tabel berikut.
| Bagian yang Dinilai | Pertanyaan yang Biasanya Diajukan Reviewer |
|---|---|
| Judul dan abstrak | Apakah judul jelas dan abstrak mewakili isi artikel? |
| Pendahuluan | Apakah masalah, gap penelitian, dan tujuan sudah kuat? |
| Metode | Apakah desain penelitian sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan? |
| Hasil | Apakah data disajikan dengan jelas dan relevan? |
| Pembahasan | Apakah hasil diinterpretasikan dengan baik dan dikaitkan dengan literatur? |
| Referensi | Apakah referensi relevan, mutakhir, dan kredibel? |
| Etika publikasi | Apakah ada indikasi plagiarisme, konflik kepentingan, atau masalah data? |
| Kontribusi | Apakah artikel memberi nilai tambah bagi bidang ilmu? |
5. Reviewer Memberikan Rekomendasi
Setelah menilai naskah, reviewer memberikan rekomendasi kepada editor. Rekomendasi ini tidak langsung menjadi keputusan final, tetapi menjadi bahan pertimbangan penting bagi editor.
| Rekomendasi | Arti |
|---|---|
| Accept | Artikel diterima tanpa revisi besar |
| Minor revision | Artikel perlu revisi kecil |
| Major revision | Artikel perlu revisi besar |
| Resubmit for review | Artikel perlu diperbaiki secara substansial dan dinilai ulang |
| Reject | Artikel ditolak |
Artikel jarang langsung diterima tanpa revisi. Revisi adalah bagian normal dari proses publikasi ilmiah.
6. Editor Mengambil Keputusan
Editor membaca komentar reviewer dan menentukan keputusan. Kadang dua reviewer memberi rekomendasi berbeda. Satu reviewer bisa meminta revisi besar, sedangkan reviewer lain menyarankan artikel ditolak. Dalam kondisi seperti ini, editor dapat mengambil keputusan sendiri atau meminta reviewer tambahan.
Penulis kemudian menerima keputusan melalui email atau dashboard jurnal.
7. Penulis Melakukan Revisi
Jika artikel diminta revisi, penulis perlu memperbaiki naskah berdasarkan komentar editor dan reviewer. Revisi sebaiknya dilakukan dengan teliti, bukan hanya mengganti beberapa kalimat.
Penulis juga perlu membuat response letter. Dokumen ini berisi jawaban terhadap setiap komentar reviewer. Berikut adalah contoh komentar review dari editor:

Contoh format response letter:
| Komentar Reviewer | Respons Penulis |
|---|---|
| Metode penelitian belum menjelaskan teknik sampling. | Terima kasih atas masukannya. Bagian metode telah diperbaiki dengan menambahkan penjelasan tentang teknik purposive sampling pada paragraf kedua. |
| Referensi perlu diperbarui. | Penulis telah menambahkan lima referensi terbaru dari tahun 2021–2025 pada bagian pendahuluan dan pembahasan. |
| Tabel 1 belum dijelaskan dalam narasi. | Penjelasan Tabel 1 telah ditambahkan pada bagian hasil. |
Response letter yang rapi menunjukkan bahwa penulis menanggapi proses review secara serius dan profesional.
8. Artikel Masuk Tahap Keputusan Akhir
Setelah revisi dikirim kembali, editor dapat langsung mengambil keputusan atau mengirim ulang naskah kepada reviewer. Jika revisi dianggap memadai, artikel dapat diterima.
Setelah diterima oleh editor, artikel biasanya masuk tahap copyediting, layout, proofreading, dan publikasi. Pada tahap akhir, penulis tetap perlu memeriksa nama penulis, afiliasi, tabel, gambar, sitasi, dan daftar pustaka agar tidak ada kesalahan sebelum artikel terbit.
Jenis-Jenis Peer Review
Jurnal ilmiah dapat menggunakan beberapa model peer review. Setiap model memiliki kelebihan dan keterbatasan.

| Jenis Peer Review | Keterangan | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|---|
| Single blind review | Reviewer mengetahui identitas penulis, tetapi penulis tidak mengetahui reviewer | Reviewer dapat memberi kritik lebih bebas | Potensi bias terhadap nama penulis atau institusi |
| Double blind review | Identitas penulis dan reviewer sama-sama disembunyikan | Mengurangi bias personal dan institusional | Anonimitas sulit dijaga jika topik sangat spesifik |
| Open review | Identitas penulis dan reviewer diketahui | Lebih transparan dan akuntabel | Reviewer bisa lebih berhati-hati dalam memberi kritik |
| Post-publication review | Artikel diterbitkan terlebih dahulu, lalu dikomentari komunitas ilmiah | Membuka ruang diskusi luas | Kualitas komentar bisa beragam |
| Collaborative review | Reviewer dan penulis dapat berdiskusi dalam proses review | Revisi lebih dialogis | Membutuhkan sistem dan waktu yang lebih terkelola |
1. Single Blind Review
Single blind review adalah model peer review ketika reviewer mengetahui identitas penulis, tetapi penulis tidak mengetahui siapa reviewernya.
Model ini cukup umum digunakan. Reviewer dapat memberi komentar secara bebas karena identitasnya tidak diketahui penulis. Kelemahannya, reviewer mungkin terpengaruh oleh nama penulis, afiliasi, atau reputasi institusi.
2. Double Blind Review
Double blind review menyembunyikan identitas penulis dan reviewer. Penulis tidak mengetahui siapa reviewer, reviewer juga tidak mengetahui siapa penulis.
Model ini sering digunakan untuk mengurangi bias. Penulis biasanya diminta menghapus nama, afiliasi, ucapan terima kasih, dan informasi lain yang dapat mengungkap identitas dari naskah.
Pada topik yang sangat spesifik, identitas penulis kadang tetap bisa ditebak dari gaya tulisan, rujukan, atau bidang riset yang sangat sempit.
3. Open Review
Open review membuat identitas penulis dan reviewer diketahui. Beberapa jurnal bahkan mempublikasikan komentar reviewer bersama artikel.
Model ini lebih transparan dan mendorong akuntabilitas. Tantangannya, reviewer bisa menjadi lebih hati-hati dalam memberi kritik, terutama jika komentarnya diketahui publik.
4. Post-Publication Review
Post-publication review dilakukan setelah artikel diterbitkan. Komunitas ilmiah dapat memberi komentar, kritik, atau masukan terhadap artikel yang sudah tersedia untuk publik.
Model ini membuka ruang diskusi yang lebih luas. Tantangannya, komentar perlu dikelola agar tetap ilmiah, relevan, dan tidak berubah menjadi opini yang tidak terarah.
5. Collaborative Review
Collaborative review memungkinkan adanya interaksi lebih terbuka antara reviewer, editor, dan penulis. Model ini membuat proses review terasa lebih dialogis.
Kelebihannya, revisi bisa lebih jelas karena penulis memahami maksud reviewer. Kekurangannya, proses ini membutuhkan sistem yang baik dan waktu yang lebih terkelola.
Manfaat Peer Review bagi Penulis
Peer review memberi banyak manfaat bagi penulis, terutama bagi mereka yang ingin meningkatkan kualitas publikasi.
1. Artikel Menjadi Lebih Kuat
Reviewer dapat menunjukkan bagian yang belum jelas atau belum didukung data. Masukan seperti ini membantu penulis memperbaiki struktur, metode, analisis, dan pembahasan.
2. Penulis Belajar dari Kritik Akademik
Komentar reviewer sering kali detail. Penulis dapat belajar melihat naskah dari sudut pandang pembaca akademik, bukan hanya dari sudut pandang penulis.
3. Pembahasan Menjadi Lebih Tajam
Reviewer biasanya meminta penulis menghubungkan temuan dengan literatur terdahulu. Ini membuat pembahasan tidak hanya mengulang hasil, tetapi juga menunjukkan kontribusi artikel.
4. Artikel Lebih Siap Diterbitkan
Artikel yang sudah melewati peer review dan revisi biasanya lebih rapi, lebih logis, dan lebih matang dibandingkan versi awal.
Kesalahan Umum Penulis Saat Menghadapi Peer Review
Beberapa kesalahan berikut sering terjadi saat penulis menerima hasil review:
- membaca komentar reviewer secara emosional;
- tidak menjawab semua komentar;
- memperbaiki naskah tanpa membuat response letter;
- menolak saran reviewer tanpa alasan akademik;
- hanya memperbaiki format, tetapi mengabaikan substansi;
- tidak menandai perubahan jika diminta jurnal;
- terlambat mengirim revisi;
- mengirim ulang file yang salah.
Proses peer review membutuhkan sikap profesional. Kritik reviewer tidak selalu nyaman dibaca, tetapi banyak komentar yang justru dapat membuat artikel lebih kuat.
Cara Menanggapi Komentar Reviewer
1. Baca Komentar dengan Tenang
Jangan langsung merespons saat emosi. Baca komentar editor dan reviewer beberapa kali. Tandai mana komentar yang berkaitan dengan metode, hasil, pembahasan, referensi, bahasa, dan format.
2. Buat Tabel Respons
Tabel respons membantu penulis memastikan semua komentar sudah dijawab. Gunakan format yang sederhana dan jelas.
3. Jawab dengan Sopan
Gunakan bahasa yang profesional. Hindari kalimat defensif. Jika setuju dengan komentar reviewer, jelaskan perubahan yang sudah dilakukan. Jika tidak setuju, beri alasan akademik yang kuat.
Contoh:
“Terima kasih atas masukan reviewer. Penulis sepakat bahwa bagian metode perlu diperjelas. Penjelasan tentang teknik sampling dan kriteria partisipan telah ditambahkan pada halaman 5.”
Atau:
“Penulis memahami masukan reviewer. Namun, analisis regresi tambahan tidak dilakukan karena tujuan penelitian ini berfokus pada eksplorasi tema kualitatif. Penjelasan mengenai batasan analisis telah ditambahkan pada bagian metode.”
4. Perbaiki Naskah secara Konsisten
Jika bagian metode diubah, pastikan bagian hasil dan pembahasan ikut sesuai. Jangan sampai revisi di satu bagian membuat bagian lain tidak konsisten.
5. Kirim Revisi Sebelum Deadline
Perhatikan batas waktu revisi. Jika membutuhkan tambahan waktu, hubungi editor dengan alasan yang jelas.
Checklist Sebelum Mengirim Revisi
| Hal yang Dicek | Status |
|---|---|
| Semua komentar reviewer sudah dibaca | ☐ |
| Semua komentar sudah dijawab | ☐ |
| Response letter sudah dibuat | ☐ |
| Revisi substansi sudah dilakukan | ☐ |
| Metode, hasil, dan pembahasan sudah konsisten | ☐ |
| Referensi tambahan sudah masuk daftar pustaka | ☐ |
| Tabel dan gambar sudah diperbaiki | ☐ |
| Bahasa sudah diperiksa ulang | ☐ |
| Perubahan sudah ditandai jika diminta jurnal | ☐ |
| File revisi sudah benar | ☐ |
| Revisi dikirim sebelum deadline | ☐ |
Berapa Lama Proses Peer Review?
Waktu peer review berbeda pada setiap jurnal. Ada jurnal yang memberikan keputusan dalam beberapa minggu, ada juga yang membutuhkan beberapa bulan.
Beberapa faktor yang memengaruhi lama proses peer review antara lain:
- jumlah naskah yang masuk ke jurnal;
- ketersediaan reviewer;
- kompleksitas topik;
- kualitas naskah awal;
- jumlah putaran revisi;
- kecepatan penulis mengirim revisi;
- kebijakan editorial jurnal.
Proses peer review dapat berlangsung sekitar 4 sampai 12 minggu secara umum, tetapi pada jurnal tertentu, prosesnya bisa lebih cepat atau lebih lama.
Apakah Artikel Bisa Ditolak Setelah Peer Review?
Artikel bisa ditolak setelah peer review. Penolakan dapat terjadi jika reviewer menilai metode bermasalah, data tidak cukup kuat, pembahasan lemah, atau artikel tidak sesuai dengan standar jurnal.
Layanan ini cocok untuk mahasiswa, dosen, peneliti, dan penulis artikel ilmiah yang sedang menyiapkan artikel untuk jurnal nasional, jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, atau jurnal internasional bereputasi.
Bagaimana Cara Menghubungi Kami?
📞WA/Telp: +62 821-1521-6307 (Editor)
📩 Email: [email protected]
🌐 Website: www.kalampractica.com
FAQ
Apakah semua artikel jurnal harus melalui peer review?
Mayoritas artikel penelitian dalam jurnal ilmiah melewati proses peer review. Beberapa jenis tulisan seperti editorial, pengantar edisi, berita jurnal, atau opini tertentu bisa saja tidak melalui review penuh, tergantung kebijakan jurnal.
Berapa lama proses peer review berlangsung?
Waktu review berbeda pada setiap jurnal. Secara umum, peer review dapat berlangsung sekitar 4 sampai 12 minggu. Pada jurnal tertentu, prosesnya bisa lebih cepat atau lebih lama.
Apakah penulis boleh memilih reviewer?
Beberapa jurnal mengizinkan penulis menyarankan nama reviewer atau menyebut reviewer yang perlu dihindari karena konflik kepentingan. Keputusan akhir tetap berada pada editor.
Apa yang harus dilakukan jika artikel ditolak?
Baca komentar editor dan reviewer dengan tenang. Gunakan masukan tersebut untuk memperbaiki naskah, lalu pilih jurnal lain yang lebih sesuai. Jangan langsung mengirim ulang artikel tanpa revisi.
Apakah reviewer selalu benar?
Reviewer bisa memiliki sudut pandang yang berbeda dari penulis. Jika penulis tidak setuju dengan komentar tertentu, jawab dengan sopan dan berikan alasan akademik yang kuat.
Apa perbedaan minor revision dan major revision?
Minor revision berarti artikel membutuhkan perbaikan kecil, seperti bahasa, referensi, format, atau penjelasan tambahan. Major revision berarti artikel membutuhkan perbaikan besar, misalnya pada metode, analisis, pembahasan, atau struktur argumen.
Apakah artikel yang mendapat major revision pasti diterima?
Tidak pasti. Major revision berarti jurnal masih memberi kesempatan kepada penulis untuk memperbaiki naskah. Artikel tetap akan dinilai ulang sebelum keputusan akhir dibuat.
Apakah peer review bisa mencegah plagiarisme?
Peer review dapat membantu mendeteksi masalah etika, tetapi bukan satu-satunya mekanisme. Jurnal biasanya juga menggunakan similarity checker dan pemeriksaan editorial untuk menilai orisinalitas naskah.




