
Tips parafrase untuk artikel jurnal penting dipahami oleh siapa pun yang sedang menulis artikel ilmiah. Banyak naskah terlihat kurang ‘menggigit’ tentu bukan karena topiknya lemah, tetapi karena bagian pendahuluan, kajian teori, atau pembahasan terlalu mirip dengan sumber yang dikutip.
Parafrase berarti memahami gagasan dari sumber, lalu menuliskannya kembali dengan struktur kalimat, alur, dan gaya bahasa sendiri tanpa mengubah makna aslinya.
Parafrase yang baik punya satu tujuan, yaitu membuat tulisan lebih natural, tetap akademik, dan lebih aman dari plagiarisme. Artikel ini membahas teknik parafrase tingkat lanjut, perbedaan parafrase dan plagiarisme, tools bantu parafrase, cara mengutip yang benar, serta contoh latihan sebelum dan sesudah parafrase.
Teknik Parafrase Tingkat Lanjut
Parafrase yang baik dimulai dari pemahaman awal yang benar ya, jangan langsung menulis ulang setelah membaca satu kalimat. Baca dulu paragrafnya, pahami inti gagasannya, lalu tulis ulang dengan bahasa sendiri.
Cara ini membantu penulis tidak terlalu menempel pada struktur kalimat asli. Semakin baik pemahaman terhadap sumber, semakin mudah penulis menyusun ulang gagasan tersebut secara natural.
1. Pahami Ide Utamanya Lebih Dulu
Sebelum menulis ulang, tanyakan dulu ke dalam diri kita: “Penulis sumber ini sebenarnya sedang menyampaikan apa?”
Setelah menemukan ide utamanya, tutup sumber sebentar, tulis ulang gagasan tersebut dengan bahasa sendiri, dan jangan menulis sambil melihat kalimat asli terus-menerus, karena biasanya struktur kalimat akan tetap mirip.
Contoh:
Sumber asli:
Asesmen formatif berperan penting dalam meningkatkan pembelajaran siswa karena membantu guru memahami perkembangan belajar secara berkala.
Parafrase yang lebih baik:
Dalam proses pembelajaran, asesmen formatif membantu guru memantau perkembangan siswa dan menyesuaikan strategi mengajar sebelum evaluasi akhir dilakukan.
2. Ubah Struktur Kalimat, Bukan Hanya Kata per kata
Parafrase yang lemah biasanya hanya mengganti beberapa kata. Secara sekilas tampak berbeda, tetapi susunan kalimatnya masih sangat mirip dengan sumber.
Contoh parafrase yang kurang kuat:
Asesmen formatif memiliki fungsi penting dalam memperbaiki pembelajaran siswa karena membantu guru mengetahui perkembangan belajar secara rutin.
Kalimat tersebut masih terlalu dekat dengan sumber. Versi yang lebih baik perlu mengubah struktur dan cara penyampaian.
Guru dapat menggunakan asesmen formatif untuk melihat kemajuan siswa selama proses belajar berlangsung. Dari informasi tersebut, guru bisa menyesuaikan cara mengajar sebelum siswa menghadapi penilaian akhir.
3. Gabungkan Beberapa Sumber
Artikel jurnal tidak sebaiknya terlalu bergantung pada satu sumber. Akan lebih kuat lagi apabila penulis menggabungkan beberapa temuan dari berbagai referensi.
Cara ini disebut sintesis, karena penulis tidak hanya menulis ulang pendapat satu ahli, tetapi menyusun argumen dari beberapa sumber yang saling berkaitan.
Contoh:
Beberapa studi menunjukkan bahwa umpan balik yang cepat, spesifik, dan berkelanjutan dapat membantu siswa memahami kesalahan serta memperbaiki strategi belajarnya.
Kalimat seperti ini lebih baik daripada menyalin satu kalimat dari satu sumber. Penulis menunjukkan bahwa ia memahami pola umum dari beberapa studi.
4. Gunakan Sudut Pandang Artikel Anda
Parafrase harus masuk ke alur artikel. Jangan menempelkan gagasan dari sumber begitu saja tanpa hubungan dengan topik utama.
Misalnya artikel Anda membahas pembelajaran digital. Saat mengutip teori motivasi, hubungkan langsung dengan konteks digital.
Contoh:
Dalam pembelajaran digital, motivasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh minat siswa. Kejelasan instruksi, interaksi dengan pengajar, dan kemudahan akses terhadap materi juga ikut menentukan pengalaman belajar.
Kalimat ini terasa lebih natural karena gagasan dari sumber sudah disesuaikan dengan konteks artikel.
5. Pecah Kalimat Panjang
Artikel ilmiah sering menggunakan kalimat panjang, dan saat diparafrase, kalimat panjang bisa dipecah menjadi dua atau tiga kalimat agar lebih mudah dibaca.
Contoh sumber:
Implementasi pembelajaran berbasis proyek memungkinkan siswa mengembangkan keterampilan kolaboratif, pemecahan masalah, dan tanggung jawab belajar melalui keterlibatan aktif dalam penyelesaian tugas autentik.
Parafrase yang lebih enak dibaca:
Pembelajaran berbasis proyek memberi ruang bagi siswa untuk terlibat aktif dalam tugas yang dekat dengan situasi nyata. Melalui proses tersebut, siswa dapat melatih kolaborasi, pemecahan masalah, dan tanggung jawab belajar.
6. Ubah Urutan Informasi
Penulis tidak harus mengikuti urutan informasi dari sumber. Selama maknanya tetap akurat, urutan gagasan bisa disesuaikan dengan kebutuhan paragraf.
Contoh:
Keberhasilan pembelajaran digital tidak hanya bergantung pada kesiapan siswa. Peran guru dalam merancang aktivitas dan memilih teknologi yang sesuai juga menentukan kualitas pengalaman belajar.
Urutan gagasan dalam kalimat tersebut sudah disusun ulang agar lebih sesuai dengan fokus pembahasan.
7. Pertahankan Istilah Teknis yang Memang Baku
Tidak semua istilah harus diganti. Istilah seperti mixed method, formative assessment, peer review, learning analytics, systematic review, atau artificial intelligence boleh tetap digunakan jika memang itu istilah baku.
Memaksakan sinonim justru bisa membuat tulisan aneh. Yang perlu diubah adalah cara menjelaskan gagasannya, bukan istilah teknis yang sudah umum dipakai dalam bidang tersebut.
Perbedaan Parafrase vs Plagiarisme
Parafrase dan plagiarisme bisa terlihat mirip jika penulis hanya mengganti beberapa kata dari sumber. Perbedaannya terletak pada pemahaman, struktur kalimat, dan cara memberi kredit kepada sumber.
Parafrase yang benar menunjukkan bahwa penulis memahami ide sumber dan mampu menuliskannya ulang dengan alur sendiri. Plagiarisme terjadi ketika penulis mengambil kata, struktur, atau ide orang lain tanpa pengakuan yang tepat.
1. Parafrase yang Benar
Parafrase yang benar tetap menjaga makna asli, tetapi ditulis dengan susunan kalimat baru. Sumber tetap dicantumkan karena ide tersebut bukan sepenuhnya milik penulis.
Contoh:
Sumber asli:
Peer review merupakan proses evaluasi naskah ilmiah oleh pakar sebidang sebelum artikel diterbitkan.
Parafrase yang benar:
Sebelum artikel diterbitkan, jurnal biasanya meminta reviewer yang memahami bidang terkait untuk menilai kualitas, ketepatan metode, dan kontribusi naskah.
Kalimat tersebut tidak hanya mengganti kata. Struktur dan fokus penjelasannya sudah berubah.
2. Plagiarisme
Plagiarisme terjadi ketika penulis terlalu dekat dengan sumber, baik dari sisi kata, struktur, maupun urutan gagasan. Meskipun beberapa kata sudah diganti, kalimat tetap bisa dianggap bermasalah jika bentuknya masih menempel pada teks asli.
Contoh:
Peer review adalah proses penilaian artikel ilmiah oleh ahli sebidang sebelum naskah diterbitkan.
Kalimat ini masih sangat dekat dengan sumber asli. Jika tidak disertai sitasi, risikonya lebih besar. Jika disertai sitasi pun, parafrasenya tetap lemah karena hanya mengganti beberapa kata.
3. Cara Mengenali Parafrase yang Aman
Parafrase lebih aman jika struktur kalimatnya berbeda, maknanya tetap akurat, dan sumbernya dicantumkan. Penulis juga perlu memastikan kalimat tersebut menyatu dengan alur artikel, bukan terasa seperti potongan yang ditempel dari sumber lain.
Tanda parafrase yang baik adalah saat pembaca bisa memahami ide dengan lancar tanpa merasa kalimatnya kaku atau terlalu mirip dengan gaya sumber asli.
Tools Bantuan untuk Parafrase
Tools parafrase bisa membantu, tetapi jangan dijadikan penulis utama. Gunakan tools untuk mencari alternatif kalimat, memperbaiki kejelasan, atau mengecek kemiripan. Keputusan akhir tetap harus dilakukan oleh penulis.
1. Grammarly
Grammarly membantu memperbaiki tata bahasa, kejelasan kalimat, dan gaya penulisan bahasa Inggris. Tools ini cocok untuk penulis yang sedang menyiapkan artikel jurnal internasional.
Grammarly bisa membantu membuat kalimat lebih ringkas, tetapi tetap perlu dicek ulang agar makna akademiknya tidak berubah.
2. QuillBot
QuillBot dapat memberi alternatif susunan kalimat. Tools ini cukup populer untuk parafrase, tetapi hasilnya tidak selalu sesuai dengan konteks akademik.
Gunakan QuillBot sebagai pembanding, bukan sebagai sumber final. Setelah mendapatkan hasil parafrase, baca ulang dan sesuaikan dengan alur artikel.
3. DeepL Write
DeepL Write dapat membantu memperhalus kalimat bahasa Inggris. Tools ini berguna untuk memperbaiki flow tulisan, terutama jika kalimat terasa terlalu kaku.
Tetap cek istilah teknis, karena beberapa istilah akademik bisa berubah makna jika diperhalus secara otomatis.
4. Google Translate atau DeepL Translator
Tools terjemahan dapat membantu memahami artikel berbahasa asing. Namun, hasil terjemahan tidak boleh langsung dimasukkan ke naskah.
Terjemahkan untuk memahami makna, lalu tulis ulang dengan struktur sendiri. Terjemahan mentah dari sumber asing tetap bisa dianggap terlalu dekat dengan sumber.
5. Turnitin atau iThenticate
Turnitin dan iThenticate bukan tools parafrase. Keduanya digunakan untuk mengecek tingkat kemiripan naskah dengan sumber lain.
Jika similarity tinggi, jangan hanya mengganti kata. Baca bagian yang bermasalah, pahami idenya, lalu tulis ulang dengan alur yang lebih berbeda.
Mendeley dan Zotero
Mendeley dan Zotero bukan alat parafrase, tetapi sangat penting untuk menjaga sitasi dan daftar pustaka tetap rapi. Banyak masalah plagiarisme muncul karena penulis lupa mencantumkan sumber.
Dengan reference manager, penulis bisa mengelola referensi dengan lebih aman dan konsisten.
Cara Mengutip dengan Benar
Parafrase tetap harus disertai sitasi. Mengubah kalimat bukan berarti ide tersebut menjadi milik kita. Dalam artikel jurnal, sitasi menunjukkan dari mana gagasan berasal dan membantu pembaca menelusuri sumbernya.
1. Cantumkan Sumber Setelah Parafrase
Jika gagasan berasal dari satu sumber, cantumkan sitasi setelah kalimat atau paragraf yang diparafrase.
Contoh gaya APA:
Pembelajaran berbasis proyek dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan kolaborasi dan pemecahan masalah melalui tugas yang berkaitan dengan situasi nyata (Thomas, 2000).
2. Gunakan Nama Penulis dalam Kalimat
Jika ingin menonjolkan penulis sumber, nama penulis dapat dimasukkan ke dalam kalimat.
Contoh:
Thomas (2000) menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis proyek memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui penyelesaian tugas yang autentik.
Cara ini membuat rujukan terasa lebih natural dalam paragraf akademik.
3. Gunakan Kutipan Langsung Secukupnya
Kutipan langsung boleh digunakan jika kalimat dari sumber memang penting, khas, atau sulit diubah tanpa mengurangi makna. Namun, artikel jurnal sebaiknya tidak terlalu banyak berisi kutipan langsung.
Jika menggunakan kutipan langsung dalam APA, cantumkan halaman.
Contoh:
“…” (Creswell & Creswell, 2023, p. 45).
Untuk parafrase, nomor halaman tidak selalu wajib dalam APA, tetapi boleh ditambahkan jika ingin menunjukkan lokasi ide secara lebih spesifik.
4. Jangan Menumpuk Sitasi Tanpa Analisis
Sitasi yang terlalu banyak dalam satu kalimat bisa membuat paragraf terasa seperti daftar nama. Lebih baik jelaskan pola temuannya.
Contoh kurang baik:
Pembelajaran digital meningkatkan motivasi belajar (A, 2020; B, 2021; C, 2022; D, 2023).
Contoh lebih baik:
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran digital dapat meningkatkan motivasi belajar ketika materi mudah diakses, instruksi jelas, dan interaksi dengan pengajar tetap terjaga (A, 2020; B, 2021; C, 2022).
5. Pastikan Sitasi Sesuai Daftar Pustaka
Setiap sumber yang dikutip di dalam teks harus muncul di daftar pustaka. Sebaliknya, jangan memasukkan sumber ke daftar pustaka jika tidak pernah dikutip dalam artikel.
Bagian ini sering terlihat sepele, tetapi editor jurnal biasanya memperhatikan konsistensi sitasi dan referensi.
Latihan Parafrase (Sebelum vs Sesudah)
Latihan parafrase membantu penulis melihat perbedaan antara parafrase yang lemah dan parafrase yang lebih aman. Prinsipnya sederhana: pahami ide, ubah struktur, sesuaikan konteks, lalu cantumkan sumber.
Contoh 1:
Sumber:
Pembelajaran kolaboratif dapat meningkatkan keterampilan komunikasi siswa karena mereka terlibat dalam diskusi, negosiasi, dan penyelesaian masalah secara bersama.
Parafrase lemah ❌:
Pembelajaran kolaboratif bisa meningkatkan kemampuan komunikasi siswa karena mereka ikut dalam diskusi, negosiasi, dan pemecahan masalah bersama.
Parafrase lebih baik ✅:
Saat siswa bekerja dalam kelompok, mereka tidak hanya menyelesaikan tugas. Mereka juga belajar menyampaikan pendapat, menanggapi ide teman, dan mengambil keputusan bersama.
Contoh 2:
Sumber:
Penggunaan teknologi pendidikan perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan kesiapan infrastruktur.
Parafrase lemah ❌:
Pemakaian teknologi pendidikan harus disesuaikan dengan tujuan belajar, karakter siswa, dan kesiapan fasilitas.
Parafrase lebih baik ✅:
Teknologi tidak sebaiknya dipilih hanya karena terlihat modern. Dalam pembelajaran, guru perlu memastikan bahwa media yang digunakan sesuai dengan target belajar, kebutuhan siswa, dan kondisi fasilitas yang tersedia.
Contoh 3:
Sumber:
Umpan balik formatif membantu mahasiswa memahami kelemahan tugas dan memperbaiki kualitas pekerjaan sebelum penilaian akhir.
Parafrase lemah ❌:
Feedback formatif membantu mahasiswa mengetahui kekurangan tugas dan meningkatkan kualitas pekerjaan sebelum penilaian akhir.
Parafrase lebih baik ✅:
Sebelum tugas dinilai secara final, mahasiswa membutuhkan masukan yang jelas agar dapat mengenali bagian yang masih lemah dan memperbaiki pekerjaannya.
Bagaimana Cara Menghubungi Kami?
📞WA/Telp: +62 821-1521-6307 (Editor)
📩 Email: [email protected]
🌐 Website: www.kalampractica.com
FAQ
Apa itu parafrase dalam artikel ilmiah?
Parafrase adalah menulis ulang gagasan dari sumber lain dengan bahasa, struktur, dan alur sendiri tanpa mengubah makna aslinya. Dalam artikel ilmiah, parafrase tetap harus disertai sitasi.
Apakah parafrase tetap harus mencantumkan sumber?
Ya. Walaupun kalimat sudah ditulis ulang, ide tersebut tetap berasal dari sumber lain. Karena itu, sitasi tetap wajib dicantumkan.
Apa bedanya parafrase dan plagiarisme?
Parafrase menulis ulang ide dengan pemahaman sendiri dan mencantumkan sumber. Plagiarisme menyalin kata, struktur, atau ide orang lain tanpa pengakuan yang tepat.
Apakah boleh menggunakan tools parafrase?
Boleh, tetapi hanya sebagai alat bantu. Penulis tetap harus mengecek makna, struktur, sitasi, dan kesesuaian kalimat dengan konteks artikel.
Apakah mengganti kata dengan sinonim sudah cukup?
Tidak. Parafrase yang baik perlu mengubah struktur kalimat, alur penjelasan, dan cara penyampaian, bukan hanya mengganti beberapa kata.
Bagaimana cara tahu parafrase sudah aman?
Parafrase lebih aman jika struktur kalimat berbeda, makna tetap akurat, sumber dicantumkan, dan hasilnya tidak terlalu mirip dengan teks asli saat dicek similarity.
Apakah kutipan langsung lebih aman daripada parafrase?
Kutipan langsung aman jika digunakan dengan tanda kutip, sitasi, dan nomor halaman. Namun, artikel jurnal sebaiknya tidak terlalu banyak berisi kutipan langsung. Parafrase biasanya lebih baik untuk menjaga alur tulisan.
Apakah hasil terjemahan dari artikel bahasa Inggris termasuk parafrase?
Tidak selalu. Terjemahan langsung dari sumber asing tetap bisa dianggap terlalu dekat dengan sumber. Setelah menerjemahkan, penulis perlu memahami maknanya dan menulis ulang dengan struktur sendiri.




